Thursday, June 19, 2008

Sebuah Coretan tentang Kepemimpinan

Kepemimpinan dalam bahasa arab dikenal dengan kata qiyadah, merupakan salah satu bentuk struktur dalam kehidupan manusia yang terpola. Maksud dari terpola adalah adanya satu bentuk organisasi baik dalam skala keciol atau besar yang terdiri atas elemen-elemen pendukung. Kepemimpinan erat kaitannya dengan organisasi ini. Kita akan coba menganalisis lebih jauh seberapa besar dan bagaimana ciri serta apa saja model kepemimpinan itu.

Kita mulai dari makna kepemimpinan, kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang maksudnya adalah menjadi panutan, pedoman dan rujukan. Sedangkan kepemimpinan adalah satu bentuk proses interaksi antara elemen dalam organisasi antara seorang pemimpin dan yang dipimpin. Jadi ketika kita berbicara tentang kepemimpinan, sebenarnya kita membahas tidak hanya pemimpinnya saja akan tetapi cakupannya lebihluas pada orang-orang yang dipimpinnya.

Unsur atau elemen kepeminpinan ada 3, yakni pemimpin, yang dipimpin dan komunikasi. Ketiga eleman ini harus ada sehingga satu perkumpulan dapat disebut sebagai kepemimpinan. Jika satu saja elelmen ini tidak ada, maka suatu perkumpulan tidak dapat disebut sebagai kepemimpinan.

Menjadi seorang pemimpin adalah suatu amal dan amanah yang luar biasa, hal ini dikarenakan fungsi dari seorang pemimpin yang harus mampu menjadi pedoman contoh dan rujukan. Disamping itu, ada waktu dimana kemampuan seorang pemimpin menganalisa permasalahan, mencari solusi dan memutuskan suatu permasalahan menjadi mutlak perlu dilakukan. Disinilah perilaku bijaksana sebagai seorang pemimpin sangat diperlukan. Mengapa kebijaksanaan?karena ketika kebijaksanaan yang mendasari setiap keputusan yang diambil, pasti pertimbangannya banyak dan diperhitungkan setiap efek yang ditimbulkannya. Dengan bersikap bijaksana akan sangat mungkin seorang pemimpin terhindarkan dari pemenuhan kebutuhan individu daripada kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin akan terus menerus mencari solusi yang paling baik yang menguntungkan bagi anak buahnya dan meminimalisir setiap resiko buruk yang mungkin terjadi. Oleh karena itu seorang pemimpin harus memiliki jiwa strategis. Artinya dia tahu keadaan lapangan sehingga benar-benar bisa mengkonsep suatu rumusan solusi yang aplikatif/ logois untuk bisa dilaksanakan.

Pemimpin dituntut tidak hanya ampu mengkonsep, namun sebenarnya dia juga dituntut unhtuk enjadi rujukan dalam masalah yang bersifat teknis. Dengan kata lain, seorang pmimpin tidak selalu identik untuk menyuruh namun juga suatu kesempatan dia menjadi eksekutor dilapanganmengerjakan hal-hal yang bersifat teknis. Tidak hanya ongkang-ongkang melihat anak buahnya melaksanakan konsep yang dia emban namun dia juga berpartisipasi aktif mendukung anak buahnya yang ada di lapangan.

Contoh terindah kita dapatkan dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW, yakni kalau kita mengingat bagaimana beliau juga turun ikut aktif dalam perang khandaq. Ketika syuro memutuskan untuk mengambil inisiatif yang ditawarkan Salman Al Farisi untuk membuat parit dan disetujui oleh seluruh umat muslim kala itu, Rasulullah juga turut aktif turun untuk membuat parit, mengambil cangkul, memindahkan batu dan berpeluhria bersama dengan pengikutnya.

Atau pada perjalanan hidup Rasul yang lain ketika pada satu waktu beliau dengan sahabat-sahabatnya sampai disatu bukit tandus, lalu setiap orang berusaha mengumpulkan bahan makanan untuk memasakan hingga semua sahabat beliau telah berpartisipasi untuk mengumpulkan bahan makanan sedangkan beliau belum, maka segera beliau juga ikut berpartisipasi untuk mencari kayu bakar.subhanallah, inilah indahnya kepemimpinan dalam Islam bahwa seorang pemimpin tidak hanya dihormati karena kemampuannya memimpin namun juga bagaimana seorang pemimpin bisa menjadi tauladan dan rujukan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Model kepemimpinan

  1. Otoriter : Keputusan tertinggi hanya pada satu orang pemimpin yang memtuskan berdasarkan pendapat sendiri dan tidak boleh dibantah oleh para pengikutnya.
  2. Majelis Syuro : Keputusan tertinggi ada pada sekunmpulan orang yang dianggap memiliki wewenang lebih dalam memutuskan masalah terutama yang berkaitan dengan kesinambungan perjalanan organisasi atau kelompoknya.
  3. Islam : model kepemimpinan cara islam adalah model yang paling baik karena merupakan intisari dari berbagai model kepemimpinan yang ada. Suatu saat dapat bersifat otoriter jika dipandang perlu untuk melaksanakannya namun juga kadang bersifat syuro yang pengambilan keputusannya harus mempertimbangkan pendapat dari orang lain meskipun ada seorang yang ditunjuk sebagai seorang pemimpin.

Parameter berhasilnya kepemimpinan islami:

1. Semakin bertmbahnya keyakinan bahwa Islam adalah jalan yang terbaik, rasa muroqqabatullah semakin tinggi, ittiba’ur rasul semakin meninggi, mengikuti peran dan tingkah para ulama salaf menjadi hal yang utama yang itu dirasakan oleh pemimpin dan keseluruhan orang yang dipimpinnya.

2. semakin bertambahnya pengetahuan dan pengalaman dari setiap orang dalam menghadi dan menyelesaikan berebagai masalah yang berkaitan dengan hajat orang banyak

3. tercapainya berbagai tujuan baik jangka pendek mnengah ataupun jangkla panjang yang telah direncanakan sebelumnya.

4. terciptanya rasa tenang, aman, nyaman dan merasakan bahwa setiap hak dari seorang manusia tidak terancam oleh berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh seorang pemimpin.

5. pengikutnya semakin banyak dan merasa nyaman ada dalam bimbingan pemimpin.

SEKALI LAGI TENTANG PELAYANAN...

Hari itu, Sabtu 1 Maret 2008, tepat 12.08, Penulis lajukan sepeda motor butut itu menuju Medical Centre. Effendi, adik tingkat angkatan 2007, meradang dan meringis menahan sakit yang dia derita. Sengaja penulis tancap gas dengan harapan dia cepat tertolong. Setelah memarkirkan sepeda motor di bawah beringin tua itu, penulis bersamanya masuk ke salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang menjadi tempat bagi para civitas akademika mengkonsultasikan bahkan berobat atas penyakit yang diderita. Langkah pertama menuju bagian pendaftaran pun sudah dilakukan, kami berdua harus menunggu sang dokter jaga. Dengan sabar kami coba menunggu namun sang penyakit yang ada pada Effendi rupanya tidak lagi dapat bersabar untuk diobati. Ketika penulis tanya dimanakah sang dokter berada, ternyata dia dan asistennya sedang bercengkrama di bilik pengambilan obat dan resep bersama dengan petugas Medical Centre yang lain.

Satu kisah lagi, ketika penulis mengantar seorang teman yang hendak di wisuda tanggal 29 maret ini untuk menandatangai berkas ijazah. Diumumkan di dalam selebaran yang dia dapatkan bahwa tanda tangan ijazah dimulai pukul 08.00 pagi. Namun apa hendak dikata, ketika kami sampai disana yang ada adalah petugas yang sedang bercengkrama dengan sesamanya sambil membaca salah satu koran domestik kota ini. Kelihatan sangat menarik percakapan itu, sampai-sampai ketika penulis menanyakan kapan loket itu akan dibuka, jawabannya pun datar dan ringan “Sebentar lagi mas, tunggu saja...” padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00.

Dan kisah yang terakhir adalah ketika ada seorang kawan yang harus meminta “bantuan” kepada penulis hanya untuk menyampaikan suatu ralat karena kelas yang dia masuki tidak sesuai. Dia merasa malas untuk menemui oknum-oknum tertentu yang mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan ralat meralat. Pun akhirnya penulis merasakan sendiri bagaimana tidak bersahabatnya petugas ini dalam melayani kebutuhan mahasiswa. Sehingga ada sebagian yang harus pasrah menerima berbagai “ocehan” tak menyenangkan yang dialamatkan padanya sedangkan sebagian lagi memilih untuk menerima tanpa meralat kesalahan itu.

Ini nyata dan kadang sering kita sebagai mahasiswa mangalaminya. Sangatlah disayangkan dengan reorganisasi besar di tubuh universitas ini baik dari tingkatan yang paling tinggi (universitas) sampai dengan fakultas, tidak dibarengi dengan semangat perbaikan pelayanan. Peningkatan kualitas pelayanan, tidak hanya untuk mahasiswa secara umum namun juga untuk seluruh elemen yang ada di kampus ini; karyawan, dosen, para pejabat kampus bahkan sampai dengan cleaning servicenya.

Sehingga benar-benar suasana kondusif tercipta di dalam kampus ini. Proses belajar mengajar dan menimba ilmu serta kepedulian dan rasa memiliki dimiliki oleh setiap elemen kampus. Dan ini adalah sebuah tantangan untuk merombak total berbagai paradigma negatif yang ada di kampus ini. Sebutlah salah satunya tentang jam kerja efektif, pelayanan revisi KRS dan berbagai hal yang bersangkutan dengan komputerisasi, pelayanan kesehatan, pelayanan kepustakaan, pelayanan administrasi dan berbagai pelayanan yang melibatkan seluruh elemen kampus ini.

Bukan tidak mungkin bahwa perlu semangat yang besar untuk mereformasi berbagai budaya-budaya yang tidak sesuai dengan prinsip kerja efektif, efisien dan profesional. Butuh kekuatan yang luar biasa untuk mengubah perilaku yang kurang efektif terutama berkaitan dengan pelayanan. Perubahan ini harus didukung oleh seluruh bagian yang ada di kampus ini.

Adalah suatu langkah maju yang patut didukung ketika ada wacana dari pihak Kemahasiswaan untuk memberikan pelayanan administrasi satu meja yang terkomputerisasi. Sebuah langkah bijak untuk mengantisipasi berbagai keruwetan yang ada terkait pelayanan keadministrasian yang kurang memuaskan terutama berkaitan dengan bagian komputer. Tidak perlu lagi ada ketakutan untuk mengurus revisi mata kuliah atau kelas yang diikuti, tidak perlu sibuk mondar mandir naik turun tangga hanya untuk mencetak Kartu Hasil Studi (KHS).

Disinilah peran pimpinan lembaga yang ada di kampus ini memliki andil yang cukup besar untuk mengubah pola pelayanan menjadi lebih baik lagi. Perlu kerja yang lebih keras lagi bagi para pimpinan untuk menjadi teladan agar mereka yang dia pimpin mau meneladani efektifitas dan profesionalisme kerja yang dilakukannya. Dan sangatlah mungkin jika paradigma reward and punishment dilakukan untuk memotivasi mereka yang bertanggung jawab dalam penyediaan pelayanan kekampusan bekerja dengan baik lagi.

Sekali lagi ini merupakan kerja kolektif seluruh elemen kampus untuk mewujudkan suatu tatanan birokrasi yang efektif dan profesional. Dukungan dan peran serta aktif oleh seluruh elemen kampus untuk membenahi sektor ini menjadi utama karena setiap saat pasti akan bersinggungan dengan wilayah-wilayah ini. Karyawan, dosen, mahasiswa, pejabat kampus, cleaning service bahkan sampai dengan rektor dan para pembantunya, memiliki tanggung jawab yang sama dalam perbaikan pelayanan di kampus yang kita cintai ini. Masukan yang membangun serta solusi yang efektif dan tepat sangatlah diperlukan untuk menciptakan pelayanan yang nyaman bagi semuanya. Solo 24 Maret 08, NH, 20.36 WIB

Oleh : JUNAIDUL FITRIYONO

Mantan Ketua Umum SKI FSSR UNS Periode 2007

Sunday, November 25, 2007

Meet with special women...(In IMs)

great... today I met with someone from ghana, her name is Erica Jasie, nice and great woman. She lived for 5 years in Ghana with her mother. majoring nurse in the final years, it is same with me. great....today is great....