“Saya itu senang melihat kalian berkembang untuk menjadi orang yang kritis dan memiliki daya analisis...”
(Prof. Dra. Dyah Bekti Ernawati, Ph.D, di ruang 101 Gedung 1 FSSR ketika beliau duduk memegang kipas dan sedang mengajar Kajian Kepariwisataan)
Hari itu 21 Maret 2008, petunjuk waktu di SMS yang dikirim oleh Tutut Wulandari menunjukkan pukul 18.36 WIB, sebuah pesan singkat berbunyi “Kabar Duka: Telah Meninggal Dunia, Prof. Dra. Dyah Bekti Ernawati, Ph.D, jenazah akan dimakamkan besok pukul 10 dari rumah duka jl. Panularan 11”. Pesan singkat yang mengagetkan penulis. Rasa sedih berkecamuk mendengar salah seorang Dosen, Motivator, Inspirator dan Guru Spiritual bagi penulis yang sangat berkesan selama penulis menghabiskan waktu dengan berbagai handout kuliah dan kegiatan-kegiatan keorganisasian di kampus ini.
Bu Erna Bekti, Bu Dyah Erna atau Bu Becks, itulah sapaan akrab teman-teman mahasiswa pada beliau. Pengalaman mengajar beliau yang hendak melampui angka dua puluhan tahun, menjadikan sosok beliau sebagai dosen senior yang memiliki wibawa yang tinggi. Meskipun begitu, di depan Kami para mahasiswanya, tidak pernah sedikit pun beliau menampakkan sikap yang kurang baik. Lebih dari itu, Kami banyak belajar dari beliau tentang banyak hal, tidak hanya berkaitan dengan materi kuliah di kelas namun juga tentang pelajaran-pelajaran kehidupan yang beliau alami.
Beliau telah meninggalkan Kami, para mahasiswanya yang sangat merindukan suara lantangnya di depan ruang kuliah, meninggalkan berbagai kesan yang mendalam yang akan Kami kenang, mungkin sampai Kami kembali lagi ke masyarakat. Penulis masih ingat salah satu perkataan beliau ketika pada semester 4 mengajar Kajian Kepariwisataan “Kita selalu berharap yang terbaik untuk masa depan kita, namun kita kadang sulit untuk menerima setiap keputusan yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan meskipun kalau kita cermati lagi, itulah yang terbaik untuk kita ” ataupun ketika suatu saat ada salah seorang teman Kami yang datang terlambat masuk ke kelas yang beliau ajar, dengan lembutnya beliau mempersilahkan sang mahasiswa untuk “libur” mengikuti kuliah pada minggu itu.
Itulah sosok Bu Dyah Erna yang penulis kenal, penuh inspirasi dan motivasi serta disiplin yang tinggi, yang mungkin bagi mahasiswanya yang “mbeling” merasa tidak senang diajar beliau. Namun penulis tahu dan sadar betul bahwa apa yang beliau ajarkan baik secara verbal beliau ungkapkan ataupun tingkah laku yang sering beliau perlihatkan, kesemuanya mengandung hikmah dan pembelajaran yang baik bagi kami, para mahasiswanya.
Banyak pengalaman dan wawasan baru yang penulis dapatkan ketika berinteraksi dengan beliau, cara bicara beliau yang blak-blakan, ceplas-ceplos, kritis serta analitis-lah yang membuat beliau disegani, meskipun penulis pun sadari bahwa dibalik itu semua menunjukkan sosok beliau yang memiliki prinsip dan komiten pada prinsip yang beliau pegang. Sebuah cara berpikir jauh ke depan dan visioner yang beliau sampaikan kepada setiap orang yang pernah berinteraksi dengan beliau, disela-sela keterbatasan yang beliau miliki.
Disiplin yang tinggi
Disiplin adalah satu sikap keseharian yang sudah biasa terlihat dari beliau. Bagi kebanyakan mahasiswa, dosen yang datang tepat pada waktunya dan mengakhiri kuliah tepat pada waktunya, kadang menjadi dosen yang menyebalkan. Namun itu berbeda dengan beliau, waktu satu setengah jam kadang kala berlalu terlalu cepat ketika kami diajak berpikir, berbagi wawasan, berdiskusi dan mengutarakan setiap hal yang ada dipikiran Kami. Itu merupakan hal yang luar biasa yang Kami dapatkan. Sangatlah sedikit dosen yang memiliki metode mengajar seperti halnya beliau.
Definisi dari kedisiplinan yang beliau sampaikan pun bukan sesuatu yang kaku dan bersifat memaksa, namun beliau lebih mengedepankan metode pendekatan untuk memahamkan bukan sekedar mengajari. Cara beliau mengajarkannya pun sangatlah variatif, mulai adanya dealine waktu untuk pengumpulan tugas, pengelompokan berdasarkan tema tertentu, metode mengajar beliau yang selalu memberikan kesempatn bagi mahasiswanya untuk memberi masukan, bertanya, menanggapi bahkan menyanggah apa yang beliau sampaikan. Luar biasa, amat sedikit dosen yang memiliki disiplin yang tinggi dengan metode penanaman disiplin yang variatif seperti beliau.
Ketidakhadiran beliau adalah ketidakhadiran yang beralasan. Hal itu terutama diakibatkan gangguan kesehatan yang memang sering kali menghambat aktivitas beliau dalam mengajar. Namun bukan berarti ketidakhadiran beliau adalah “kosong”nya mata kuliah beliau. Meskipun tidak hadir namun pasti beliau menyertakan tugas atau waktu pengganti sebagai bentuk tanggung jawab. Sebuah langkah yang perlu ditiru seiring langkanya staf pengajar yang memiliki disiplin yang tinggi seperti beliau. Datang tepat waktu, keluar tepat waktu, kuliahnya berbobot, pun ketika tidak dapat hadir di depan kelas, masih ada tanggung jawab beliau kepada mahasiswa yang mengikuti mata kuliahnya.
Integritas dan Dedikasi yang tinggi
Pada sambutannya, mewakili civitas akademika Universitas Sebelas Maret, Rektor, Prof. Syamsulhadi, mengungkapkan kekaguman pada sosok Bu Dyah Erna. Beliau menyampaikan dengan berbagai keterbatasan yang dimilikinya, Bu Erna adalah sosok yang penuh integritas dan dedikasi yang tinggi, terutama dengan tanggung jawabnya sebagai seorang pengajar. Beliau mendedikasikan dirinya untuk mendidik dengan gelora semangat yang mungkin sulit untuk disamai oleh orang lain. Sejak berbagai cobaan berupa gangguan kesehatan beliau alami, aktivitas mengajar beliau memang sedikit terkurangi. Sekali lagi, sedikit terkurangi, karena meskipun beliau sakit namunberbagai aktivitas masih beliau jalankan dengan baik, baik sebagai seorang dosen, Pembimbing ataupun sebagai bagian dari masyarakat dimana beliau tinggal.
Dedikasi beliau sangat terlihat dari semangat yang terpancar dari aktivitas beliau. Satu hal yang masih penulis ingat adalah ketidaksediaan beliau, mahasiswa yang ada di bawah bimbingannya dilimpahkan kepada dosen pembimbing yang lain. Bahkan penulis mencatat ada sekitar 6 mahasiswa bimbingan beliau yang masih berinteraksi dengan beliau disela-sela gangguan kesehatan yang beliau alami. Salah seorang teman yang berada di bawah bimbingan beliau mengungkapkan kekagumannya atas semangat yang dimiliki oleh beliau sampai akhir beliau menghembuskan nafasnya. Semua menyaksikan bahwa beliau adalah seorang pembimbing yang bersemangat dan bervisi yang sangat sulit ditemukan saat ini.
Namun hari ini, Sabtu 22 Maret 2008, kami harus merelakan kepergian beliau untuk selam-lamanya. Beliau telah kembali kepada Sang Pengasih, Allah Subhanahu Wa ta’ala. Tetes air mata ingin terlalu kecil untuk untuk mengenang berbagai pelajaran berharga yang beliau sampaikan kepada kami. Perasaan duka ini pun sebenarnya tidak cukup untuk mewakili rasa kehilangan yang sangat besar yang kami rasakan dengan kepergian beliau. Dan hari ini pun kami menyaksikan bahwa beliau adalah sosok teladan yang banyak memotivasi, menginspirasi dan memberikan cerminan semangat yang terus bergelora meski kadang keterbatasan merintangi dan menjadi aral penghambat. Beliaulah dosen kami tercinta yang kami sangatlah bangga menjadi mahasiswanya, beliaulah: Prof. Dra. Dyah Bekti Ernawati, Ph.D. Selamat Jalan Bu Becks....
Solo 24 Maret 08, NH, saat isya’ berkumandang, 19.00 WIB
Ditulis oleh :
JUNAIDUL FITRIYONO
Koordinator Angkatan 2003
Jurusan Sastra Inggris
Thursday, June 19, 2008
Sebuah Ungkapan Cinta: Untukmu Bu Dyah Erna....
KEBIJAKAN YANG MUBAZIR…..
Pesatnya perkembangan pembangunan Kampus UNS dewasa ini mencerminkan semakin tingginya nilai produktifitas yang dihasilkan oleh pihak rektorat dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang dihasilkan. Berbagai pembaharuan, peremajaan sampai dengan pembangunan berbagai sarana penunjang proses belajar mengajar serta estetika bangunan dan taman mulai terlihat sebagai hal yang membanggakan.
Namun berkaca dari perjalanan UNS sebelumnya, kiranya berbagai kebijakan rektorat haruslah memiliki fungsi yang jauh panjang ke depan, terutama yang berkaitan dengan kelancaran dan penyediaan berbagai fasilitas penunjang yang sengaja dibuat atau diusahakan demi kebaikan semua elemen kampus.
Ada beberapa kebijakan yang dahulu di awal-awal pelaksanaannya memiliki pengaruh yang signifikan cukup baik namun seiring waktu berjalan terlihat bahwa beda pimpinan maka beda kebijakan.
Jalur satu arah
Keputusan pihak Kampus untuk menjalankan kebijakan jalur satu arah di dalam kampus merupakan hal yang laik untuk diperhatikan. Pada awalnya kebijakan ini di tetapkan untuk menciptakan jalur transportasi yang lancar terbebas dari kemacetan. Berbagai fasilitas penunjang pun mutlak dibutuhkan untuk mendukung kebijakan ini. Salah satu diantaranya adalah papan rambu lalu lintas penunjuk arah.
Setelah berbagai studi kelayakan dilakukan, sosialisasi dijalankan dan kebijakan ini dijalankan, sebuah awalan yang baik kita dapatkan. Keteraturan kendaraan bermotor yang masuk ke dalam lingkungan kampus berjalan dengan baik meskli kadang Satuan Pengamanan (SATPAM) pun perlu juga bersinergi dengan kebijakan ini dengan menjaga titik-titik tertentu untuk mengingatkan para elemen kampus yang berkendaraan untuk mematuhi peraturan yang ada serta menindak berbagai pelanggaran.
Namun setelah ditinjau ulang dan akhirnya kebijakan berganti, jalur satu arah hanyalah satu kenangan akan kebijakan rektorat yang tidak bervisi jangka panjang, berapa dana yang dibutuhkan terbuang percuma selama kebijakan ini dijalankan, berapa energi, waktu dan pikiran yang terbuang sia-sia. Sungguh sangat disayangkan.
Akhirnya kita melihat berbagai kemubaziran yang ada. Papan penunjuk arah berubah fungsinya sesuai kebijakan baru untuk mengendarai motor atau mobil dengan kecepatan 20km/jam saja. Rantai pemisah di depan rektorat yang biasanya digunakan untuk membatasi arah kendaraan dari fakultas pertanian ke fakultas teknik hanya digunakan untuk waktu-waktu tertentu saja.
Paving jalan
Kebijakan lain yang dijalankan oleh pihak kampus salah satunya perbaikan paving dan pembuatan areal parkir di depan Student Center (SC). Pembangunan areal parkir yang juga diikuti dengan perbaikan sarana pembuangan air itu pun perlu dicermati kembali. Segi kemanfaatannta memang sangat besar namun yang perlu dengan jernih kita melihat adalah kualitas pembangunannya yang terkesan asal-asalan. Bagaimana kita tidak mengatakan asal-asalan, kurang dari 2 bulan areal parkir itu selesai berbagai kerusakan sudah terjadi disana. Salah satu yang terlihat adalah rusaknya paving itu sehingga perlu ditata ulang.
Pengawasan terhadap pelaksanaan proyek pembangunan ini perlu lebih ditingkatkan. Pihak rektorat tidak hanya menetapkan kebijakan namun juga memiliki fungsi lain sebagai pengawas pengerjaan proyek sehingga benar-benar proyek yang dihasilkan adalah proyek yang bermutu. Tidak lagi muncul kerusakan atau perbaikan-perbaikan kembali sarana dan fasilitas yang baru saja. Sungguh sangat disayangkan.
Argo Budoyo
Argo budoyo merupakan salah satu kebijakan kampus yang tidak berorientasi jangka panjang. Sudah banyak masukan terkait dengan tidak tepatnya lokasi, minimnya fasilitas, buruknya penjagaan dan jarangnya penggunaan fasilitas ini. Namun belum terlihat usaha pihak universitas untuk memaksimalkan keberadaan salah satu bangunan yang berkait erat dengan ekspresi budaya ini. Argo budoyo layaknya bangunan yang tidak lagi memiliki fungsi budaya karena tidak digunakannya fasilitas ini sesuai dengan fusngsi awalnya sebgai areal seni dan budaya.
Asrama Mahasiswa.
Salah satu yang kebijakan saat ini juga mengindikasikan kurang tepatnya arah kebijakan kampus adalah masalah yang berkaitan dengan asrama mahasiswa. Meskipun secara teknis pengaturannya ada di bawah Kopereasi Mahasiswa, namun pihak kampus tetap memiliki kewenangan yang besar untuk turut serta dalam merencanakan asrama mahasiswa sebagai fasilitas pandukung bagi mahasiswa UNS.
Dua bangunan utama asrama yang lebih dahulu dibangun, kondisinya jauh dari segi kelayakan baik dari fasilitas yang disediakan maupun penggunaan kamar-kamar yang disediakan. Hanya satu bangunan utama yang dipakai sedangkan bangunan lainnya dibiarkan terlantar sehingga tampak menambah kekumuhan dan kesemrawutan. Belum lagi permasalahan dengan para penghuni asrama yang saling tuntut hak dengan pihak manajemen, dalam hal ini Koperasi Mahasiswa.
Ini seharusnya menjadi pelajaran dan evaluasi besar dari pihak kampus untuk kembali membangun asrama. Kita sangat mendukung dibangunnya asarama mahasiswa yang mimiliki pola manajemen yang jelas dan profesional. Sehingga mereka yang mengaku menjadi mahasiswa UNS kan bangga bahwa kampus mereka pun menyediakan sarana asrama yang sangat membantu.
Untuk masa-masa kedepan, semoga pihak kampus sebelum menetapkan satu kebijakan sellau berlandaskan pada orientasi jangka panjang yang didukung oleh data yang akurat bahwa kebijakan itu memnag dibutuhkan dan mutlak diperlukan demi kelancaran berbagai proses edukatif yang ada di UNS.
OLEH: JUNAIDUL FITRIYONO,C0303005
Mahasiswa Sastra Inggris Angkatan 2003
Saat ini menjabat sebagai Ketua Umum SKI FSSR
Aktif dalam kegiatan kritis mahasiswa.
Sebuah Coretan tentang Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam bahasa arab dikenal dengan kata qiyadah, merupakan salah satu bentuk struktur dalam kehidupan manusia yang terpola. Maksud dari terpola adalah adanya satu bentuk organisasi baik dalam skala keciol atau besar yang terdiri atas elemen-elemen pendukung. Kepemimpinan erat kaitannya dengan organisasi ini. Kita akan coba menganalisis lebih jauh seberapa besar dan bagaimana ciri serta apa saja model kepemimpinan itu.
Kita mulai dari makna kepemimpinan, kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang maksudnya adalah menjadi panutan, pedoman dan rujukan. Sedangkan kepemimpinan adalah satu bentuk proses interaksi antara elemen dalam organisasi antara seorang pemimpin dan yang dipimpin. Jadi ketika kita berbicara tentang kepemimpinan, sebenarnya kita membahas tidak hanya pemimpinnya saja akan tetapi cakupannya lebihluas pada orang-orang yang dipimpinnya.
Unsur atau elemen kepeminpinan ada 3, yakni pemimpin, yang dipimpin dan komunikasi. Ketiga eleman ini harus ada sehingga satu perkumpulan dapat disebut sebagai kepemimpinan. Jika satu saja elelmen ini tidak ada, maka suatu perkumpulan tidak dapat disebut sebagai kepemimpinan.
Menjadi seorang pemimpin adalah suatu amal dan amanah yang luar biasa, hal ini dikarenakan fungsi dari seorang pemimpin yang harus mampu menjadi pedoman contoh dan rujukan. Disamping itu, ada waktu dimana kemampuan seorang pemimpin menganalisa permasalahan, mencari solusi dan memutuskan suatu permasalahan menjadi mutlak perlu dilakukan. Disinilah perilaku bijaksana sebagai seorang pemimpin sangat diperlukan. Mengapa kebijaksanaan?karena ketika kebijaksanaan yang mendasari setiap keputusan yang diambil, pasti pertimbangannya banyak dan diperhitungkan setiap efek yang ditimbulkannya. Dengan bersikap bijaksana akan sangat mungkin seorang pemimpin terhindarkan dari pemenuhan kebutuhan individu daripada kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin akan terus menerus mencari solusi yang paling baik yang menguntungkan bagi anak buahnya dan meminimalisir setiap resiko buruk yang mungkin terjadi. Oleh karena itu seorang pemimpin harus memiliki jiwa strategis. Artinya dia tahu keadaan lapangan sehingga benar-benar bisa mengkonsep suatu rumusan solusi yang aplikatif/ logois untuk bisa dilaksanakan.
Pemimpin dituntut tidak hanya ampu mengkonsep, namun sebenarnya dia juga dituntut unhtuk enjadi rujukan dalam masalah yang bersifat teknis. Dengan kata lain, seorang pmimpin tidak selalu identik untuk menyuruh namun juga suatu kesempatan dia menjadi eksekutor dilapanganmengerjakan hal-hal yang bersifat teknis. Tidak hanya ongkang-ongkang melihat anak buahnya melaksanakan konsep yang dia emban namun dia juga berpartisipasi aktif mendukung anak buahnya yang ada di lapangan.
Contoh terindah kita dapatkan dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW, yakni kalau kita mengingat bagaimana beliau juga turun ikut aktif dalam perang khandaq. Ketika syuro memutuskan untuk mengambil inisiatif yang ditawarkan Salman Al Farisi untuk membuat parit dan disetujui oleh seluruh umat muslim kala itu, Rasulullah juga turut aktif turun untuk membuat parit, mengambil cangkul, memindahkan batu dan berpeluhria bersama dengan pengikutnya.
Atau pada perjalanan hidup Rasul yang lain ketika pada satu waktu beliau dengan sahabat-sahabatnya sampai disatu bukit tandus, lalu setiap orang berusaha mengumpulkan bahan makanan untuk memasakan hingga semua sahabat beliau telah berpartisipasi untuk mengumpulkan bahan makanan sedangkan beliau belum, maka segera beliau juga ikut berpartisipasi untuk mencari kayu bakar.subhanallah, inilah indahnya kepemimpinan dalam Islam bahwa seorang pemimpin tidak hanya dihormati karena kemampuannya memimpin namun juga bagaimana seorang pemimpin bisa menjadi tauladan dan rujukan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Model kepemimpinan
- Otoriter : Keputusan tertinggi hanya pada satu orang pemimpin yang memtuskan berdasarkan pendapat sendiri dan tidak boleh dibantah oleh para pengikutnya.
- Majelis Syuro : Keputusan tertinggi ada pada sekunmpulan orang yang dianggap memiliki wewenang lebih dalam memutuskan masalah terutama yang berkaitan dengan kesinambungan perjalanan organisasi atau kelompoknya.
- Islam : model kepemimpinan cara islam adalah model yang paling baik karena merupakan intisari dari berbagai model kepemimpinan yang ada. Suatu saat dapat bersifat otoriter jika dipandang perlu untuk melaksanakannya namun juga kadang bersifat syuro yang pengambilan keputusannya harus mempertimbangkan pendapat dari orang lain meskipun ada seorang yang ditunjuk sebagai seorang pemimpin.
Parameter berhasilnya kepemimpinan islami:
1. Semakin bertmbahnya keyakinan bahwa Islam adalah jalan yang terbaik, rasa muroqqabatullah semakin tinggi, ittiba’ur rasul semakin meninggi, mengikuti peran dan tingkah para ulama salaf menjadi hal yang utama yang itu dirasakan oleh pemimpin dan keseluruhan orang yang dipimpinnya.
2. semakin bertambahnya pengetahuan dan pengalaman dari setiap orang dalam menghadi dan menyelesaikan berebagai masalah yang berkaitan dengan hajat orang banyak
3. tercapainya berbagai tujuan baik jangka pendek mnengah ataupun jangkla panjang yang telah direncanakan sebelumnya.
4. terciptanya rasa tenang, aman, nyaman dan merasakan bahwa setiap hak dari seorang manusia tidak terancam oleh berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh seorang pemimpin.
5. pengikutnya semakin banyak dan merasa nyaman ada dalam bimbingan pemimpin.
